Kembalinya Mantan Teroris Kepangkuan Ibu Pertiwi Dibuktikan Pada Upacara HUT RI Ke...

Kembalinya Mantan Teroris Kepangkuan Ibu Pertiwi Dibuktikan Pada Upacara HUT RI Ke 72 Di Kampung Halaman Amrozi Bom Bali Satu

155 views
0
SHARE

Kabarone.com, Lamongan – Upacara detik-detik Proklamsi 17 Agustus peringatan HUT kemerdekaan RI ke 72 digelar di kampung halaman Amrozi di Desa Tenggulun Kecamatan Solokuro Lamongan Jawa Timur. Upacara di ikuti oleh 37 mantan combatan, 12 mantan jaringan jadi 49 orang para mantan combatan dan mantan narapidana terorisme.
Kamis, (17/8/2017).

Petugas upacara yang digelar di halaman Yayasan Lingkar Perdamaian tepatnya di kampung halaman Amrozi Bom Bali satu. Tepat pada pukul 10.00 WIB melaksanakan upacara detik-detik Proklamasi yang dipimpin langsung oleh Kapolres Lamongan AKBP. Juda Nusa Putra, SIK sebagai Inspektur upacara dan juga di hadiri oleh Kasi Intel Kejari Lamongan Budiyanto, SH, Kasdim 0812 Lamongan beserta jajaran, anggota Polres Lamongan beserta jajaran, BNPT, Bakesbangpol, Fokompimda dan SKPD Kabupaten Lamongan, dan masyarakat Desa Tenggulun Kecamatan Solokuro Lamongan.

Sebagai Perwira upacara adalah Yusuf Anis alias Haris alias Abu Bilal adalah salah satu lulusan akademi militer mujahidin Afghanistan 1991. Yusuf Anis pernah menjadi instruktur andalan Al Qaida di Camp Sada selanjutnya pada Tahun 1997 pindah tugas mengajar ke Camp Hudaibiyah Mindanao Filipina Selatan. Pada konflik Ambon bergejolak tahun 1999 dia di tunjuk oleh Jama’ah Islamiyah untuk mengajar basic militer bagi warga sipil di Maluku dan sempat menjadi instruktur bayaran di wilayah Poso Sulteng. Tahun 2002 Bom Bali satu meledak, hasil investigasi Polri Jama’ah Islamiyah berada di balik serangan mematikan ini. Kemudian Haris ditangkap dan diperiksa di Mabes Polri dan kemudian dilepas karena tak terbukti ikut berperan aktif dalam aksi tersebut.

Komandan Upacara adalah Yoyok Edi sucahyo alias Broyok yang pernah belajar kepada Abu Faris salah satu komandan perang ISIS di Syria.

Pembaca Teks Proklamasi adalah Ali Fauzi Manzi alias Salman alias Abu Ridho alias Ikrimah merupakan adik trio Bom Bali satu. Ali Fauzi pernah dikirim oleh Hambali (sekarang berada di penjara Guantanamo) ke Camp Abubakar dan Camp Hudaibiyah Mindanao secara khusus belajar perakitan bom (field Engeering) dan salah satu anggota special elit force Moro Islamic Leberation Front (MILF). Pada Tahun 1999 ia juga ditunjuk menjadi kepala instruktur perakitan bom Jama’ah Islamiyah propinsi Jatim. Tahun 2000 sampai dengan 2002 menjadi Kepala Instruktur pelatihan militer di Ambon dan Poso dibawah organisasi baru bernama Kompak. Tahun 2002 Ali melarikan diri ke Mindanao untuk bergabung dengan pasukan lamanya disana ketemu dengan Umar Patek, Abdul Matin, Marwan (Malaysia), Mu’awiyah (Singapura), dll untuk mendirikan Camp yang tak jauh dari Marawi. Akhir Tahun 2004 Ali Fauzi tertangkap oleh Police National Philipina (PNP) di penjara kemudian Tahun 2007 di deportasi. Sebelumnya sempat di periksa dan di bina oleh satgas bom Mabes Polri selama 8 bulan kemudian dipulangkan ke kampung halaman di Desa Tenggulun Solokuro Lamongan sekarang kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi untuk setia kepada NKRI dan menjadi Direktur Lingkar Perdamaian.

Untuk tiga Pasukan Pengibar Bendera Merah Putih yaitu, Zulia Mahendra adalah putra bungsu terpidana mati Almarhum Amrozi. Ia sempat lama merasa dendam dan marah terhadap negara yang telah mengekskusi ayahnya, lanjutnya Mahendra menyadari bahwa itu bagian dari suratan hidupnya. Di bawah binaan Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) dan Polres Lamongan, sekarang Mahendra sudah sembuh dari dendamnya. Saiful Arif alias Abid alias David alias Jack, ia berabgkat ke Ambon Tahun 2001 untuk ikut konflik sektarian Maluku dibawah bimbingan Abu Ridho setelah itu Tahun 2003 pindah ke Poso. Terlibat penyerangan terhadap warga desa Beteleme Poso juga baku tembak dengan anggota Brimob BKO Aceh di Poso, 6 temannya tewas sementara yang luka-luka 3 orang termasuk ia tertembak di bagian kaki kemudian di bawah Polisi ke Dokes Polda Sulteng lalu di rujuk ke rumah sakit Undata Palu seterusnya telapak kaki di amputasi, keluar penjara pada 2006. Sekarang ia jadi Pengurus Yayasan di Lingkar Perdamaian.

Khoerul Mustain putra dari Nor Minda terpidana 4 tahun penjara karena terlibat bom Bali satu sebagai penyedia bahan juga bagian penyimpanan senjata dan amunisi.

Sedangkan Pembaca Do’a adalah Drs. H. Moh. Chozin kakak tertua dari trio bom Bali satu, yang malah tak tahu kalau adik-adinya pernah belajar militer di luar negeri dan pakar dalam perakitan bom.

Yang sebagai Komandan Peleton (Danton) Sumarno alias Asadullah adalah keponakan Trio Bom Bali Satu Amrozi, Asadullah adalah lulusan pertama pelatihan militer Jama’ah Islamiyah (JI) Jawa Timur di bawah bimbingan pamanya Ali Fauzi, ia paham dan mengetahui metode pemboman, yang bersangkutan tertangkap Tahun 2002 karena terlibat dengan Bom Bali Satu, menyembunyikan bahan peledak senjata dan amunisi dan divonis lima tahun penjara, ia sekarang menjadi Bendahara di Yayasan Lingkar Perdamaian.
Uman Slamet alias Abu Dicky, masuk jaringan Ali Imron.
Purnomo, tokoh Pemuda Desa Tenggulun Kecamatan Solokuro.

Pada kesempatan yang sama AKBP. Juda Nusa Putra, SIK mengatakan, Polres Lamongan, Kodim 0812, Pemkab, dan Yayasan Lingkar Perdamaian ingin mencitrakan Kabupaten Lamongan sebagai tempatnya deradikalisasi. Saya ingin masyarakat tahu, Lamongan yang dulu brand-nya teroris kini kita ubah Lamongan sekarang adalah tempat perubahan Lamongan bengkelnya teroris disinilah tempatnya di sini ada Yayasan Lingkar Perdamaian,” kata Kapolres.

Lebih lanjut, ia menegaskan Sebagai tempatnya “Taubat”, AKBP Juda Nusa Putra, SIK bersama Kodim 0812, Pemkab Lamongan, BNPT, bertekad untuk membesarkan Yayasan Lingkar Perdamaian. “Ini kita besarkan, Bapak Bupati (Lamongan Fadeli) mendukung, kita merubah saudara-saudara kita yang kemarin khilaf kini kembali. Sebagai langkah awal, AKBP. Juda, berharap masyarakat mau menerima mereka, dan keluarganya juga. “Komitmennya, kita rangkul semuanya, diubah pola pikirnya. Ini wujud Polres Lamongan, Kodim 0812, Fokompimda, BNPT, Bakesbangpol juga untuk deradikalisasi, kita sama-sama merangkul mereka,” tegasnya.

Pada gilirannya Ali Fauzi yang adik Trio Bom Bali satu, dengan nada tegas menepis tudingan miring atas isi WA, SMS yang masuk ke telephonya bahwa mantan kombatan dan mantan narapidana teroris setia pada NKRI adalah bohong, lalu di jawab “itu tidak benar, Ali Fauzi bilang sampai semalam ia dan petugas upacara tak bisa tidur dengan alasan acara upacara ditakutkan tidak sukses, terbukti tadi setelah upacara ketika diwawancarai wartawan ia bilang bersyukur dan sangat bangga karena upacara berjalan sukses lalu ia bersujud ke bumi dilihat khalayak banyak yang hadir sebagai tanda puji syukur kepada Allah SWT Tuhan Yang Maha Kuasa ia bersama-sama telah kembali kepangkuan Ibu Pertiwi,” pungkasnya, (pul/pur/rul).

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY