Ribuan Masyarakat Hadiri Tradisi Siraman & Buka Bekasem Ikan di Keraton Kasepuhan...

Ribuan Masyarakat Hadiri Tradisi Siraman & Buka Bekasem Ikan di Keraton Kasepuhan Cirebon

22 views
0
SHARE

Kabarone.com, Cirebon – Setiap  datangnya momen peringatan Maulid Nabi Muhamad SAW (Muludan), Tradisi Siraman & Buka Bekasem Ikan di Keraton Kasepuhan Cirebon dihadiri ribuan para warga, abdi dalem, kaum Masjid Agung Sang Cipta Rasa, warga margersari dan masyarakat pengunjung.

Sultan Sepuh XIV, Keraton Kasepuhan Cirebon, PRA Arief Natadiningrat, SE mengatakan Keraton Kasepuhan Cirebon setiap menyambut peringatan bulan maulid senantiasa melakukan tradisi pembuatan makanan dengan mengawetkan 25 Kg ikan laut di dalam guci selama 1 bulan. Tradisi itu dinamakan Bekasem Ikan.

Dijelaskan, istilah bekasem merupakan sebuah proses pengawetan cara tradisional. Oleh karena itu, pekerjaan itu biasa dikerjakan oleh ibu-ibu pengajian di Masjid Agung Sang Cipta Rasa Keraton Kasepuhan. Meskipun mereka sudah lanjut usia, namun mereka masih mampu untuk mengolah dan membuat tradisi turun temurun itu.

Menurutnya sebanyak 25 Kg ikan laut itu dimasukan dan diawetkan selama satu bulan dalam sebuah guci. Jenis ikan di dalamnya termasuk, kakap, tenggiri, dan beberapa lainnya yang sebelumnya sudah dibersihkan.

“Sebagai bumbunya, setelah ikan-ikan itu dimasukan dalam guci, ditaburi olahan rempah-rempah yang diantaranya gula, garam, dan nasi putih. Kemudian, ditutup rapat dengan abu gosok. Selanjutnya disimpan dalam dua buah guci khusus,” katanya.

Sedang guci yang digunakan bukan guci sembarangan namun merupakan guci kuno peninggalan Putri Ong Tien Nio dari China. Putri Ong Tien Nio sendiri merupakan istri Sunan Gunung Jati.

Ikan yang sudah dimasukkan ke dalam guci-guci itu disimpan selama sebulan di ruang Pungkuran Dalem Arum di Keraton Kasepuhan. Tradisi bekasem ikan dilaksanakan setiap muludan yang tahun ini jatuh pada tanggal 25 Nopember 2017. Diawali jam 08.00 tradisi siraman panjang dan pukul 09.00 tradisi buka bekasen ikan.

Tahun ini 9 piring wali dicuci semua. Karena tahun ini tahun Dal. Setiap tahun Dal dan tahun Wawo 9 piring dikeluarkan semua.  Selain tahun itu hanya 7 piring saja yang dicuci.

Sedang yang di cuci pada tahun  ini yaitu 9 piring wali, 40 piring pengiring, 2 guci dan 2 gelas. Piring-piring itu dihiasi kaligrafi nama Allah dan Kalimat Thoyibah. Benda-benda kuno tersebut usianya 700 tahun.

Selama ini benda-benda pusaka disimpan di kamar pusaka Dalem Arum dan mulai tahun ini disimpan di Museum Pusaka.

Sehingga rangkaian tradisi di mulai dari Museum Pusaka menuju ruang Grobyog melalui Dalem Arum. Kemudian acara siraman di Kaputren.

Tradisi Siraman & Buka Bekasem Ikan di Keraton Kasepuhan Cirebon dihadiri ribuan para warga, abdi dalem, kaum Masjid Agung Sang Cipta Rasa, warga margersari dan masyarakat pengunjung. Seperti biasanya kenyakin masyarakat ” ngalap berkah”  berebut air bekas pusaka benda-benda kuno tersebut

Makna dari tradisi siraman ini, bahwa setiap akan mulai kegiatan (ibadah) harus terlebih dahulu bersuci. Artinya harus bersih dengan mandi terlebih dahulu, kemudian berwudhu. ” Mengandung makna bersuci terlebih dahulu agar kegiatan ibadah kita diterima Allah SWT dan mendapat keberkahan,” ungkapnya.

Setelah itu di lanjutkan dengan buka bekasen ikan sebanyak dua guci. Acara ini dipimpin RA. Syariefah Isye Permaisuri Gusti Sultan Sepuh XIV.

Ikan kakap ini diberi rempah dimasukkan kedalam guci selama sebulan mulai tanggal 5 Safar yang lalu dan dibuka 5 mulud. Bekasem ikan setelah di keluarkan dari guci, kemudian di jemur sampai kering. Selanjutnya di masak di dapur mulud bersama nasi jimat yang akan dihidangkan pada upacara panjang jimat.

Kemudian, makanan yang sudah siap saji itu, dihidangkan bersamaan nasi jimat pada acara Panjang Jimat atau puncak peringatan Muludan pada 12 Mulud mendatang.

“Tradisi yang sudah menjadi adat turun temurun ini memiliki nilai filosofi, akan gambaran kehidupan masyarakat Cirebon yang kaya akan potensi lautnya. Dan ini juga merupakan bagian dari memanfaatkan berbagai anugrah Allah Swt di alam ini,” pungkasnya. (Mulbae)

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY